SHARE


Sejarah Slank bermula dari  Sekolah Perguruan Cikini, atau biasa disingkat Percik, yang terletak di Jakarta Pusat. Pada dekade 1970-an tempat ini telah melahirkan nama-nama besar yang berpangaruh dalam peta musik nasional. Di antaranya Nasution Bersaudara yang terdiri dari Debby, Gaury, Keenan dan Odink Nasution melalui Gank Pegangsaan. Sebelumnya lahir Sabda Nada yang namanya kelak berubah menjadi Gipsy. Salah personilnya adalah Chrisye, pemain bass yang menjadi salah satu legenda musik Indonesia.

Dari waktu ke waktu Percik terus melahirkan musisi berbakat. Pada awal 1980-an muncul Bimo Setiawan Almachzumi (Bimbim) mengibarkan Cikini Stones Complex (CSC) yang hanya bertahan sampai tahun 1983 yang khusus membawakan lagu-lagu The Rolling Stones. Bimbim kemudian membentuk Red Evil dengan mengajak gitaris eks CSC, Kiki, serta sepupunya Ahmad Ramadhani pada bas.  Red Evil mulai mengembangkan ide kreatif dengan membawakan lagu-lagu ciptaan sendiri dan sejumlah hits dari Van Halen. Tongkrongannya pun terlihat lebih cadas.

Perjalanan karir Cikini Stones Complex mau pun Red Evil merupakan priode pencarian jati diri anak-anak muda pencinta musik rock di tengah rutinitas kegiatan sekolah. Di sana terdapat mimpi, ketidakpastian dan persaingan antar band sebagai dinamika khas para pemula dalam konteks membangun identitas.

Pada tanggal 26 Desember tahun 1983 nama Red Evil resmi diganti menjadi Slank. Saat itu Ahmad Ramadhani tengah merayakan ulang tahun di arena Bowling Hotel Kartika Chandra, Jakarta Pusat. Formasi pertamanya adalah Erwan (vokal), Bongky (gitar), Kiki (gitar), Ahmad Ramadhani (bass), dan Bimbim (drum). Kampus Universitas Nasional (Unas) merupakan saksi sejarah pemunculan perdana.

Laiknya band baru yang belum menemukan pola permainan baku, Slank berulang kali mengalami bongkar-pasang formasi. Markas di jalan Potlot lll/14, Duren Tiga, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, menjadi tempat nongkrong anak band. Alumnusnya antara lain Oppie Andaresta, Imanez, Andi Liani, Anang Hermansyah (kini anggota DPR) dan video maker Dimas Jayadiningrat.

Pada pergantian formasi ke 13 – Kaka (vokal), Pay (gitar), Bongky (bass), Indra Q (keyboard) dan Bimbim (drum) – Slank bertemu dengan perancang grafis Boedi Soesatio yang berlanjut  pada kerja sama pembuatan album. Kuartal pertama 1991 dirilislah debut album Suit-Suit He-He  (Gadis Sexy). Hingga kini, Slank telah membua rekaman tidak kurang dari 18 (delapan belas) album dan sejumlah hit yang sangat populer tidak saja di kalangan para Slankers melainkan juga pencinta genre lain. Ihwal Ahmad Ramadhani memilih non aktif bermain musik untuk berkonsentrasi sebagai manager Slank dan dikenal dengan panggilan Bang Denny.

Lirik lagu Slank mengangkat tema sangat beragam dengan bahasa keseharian. Mulai percintaan, budaya, sosial hingga politik. Sejak awal mereka terbiasa menyuarakan kegelisahan melalui bahasa lugas tanpa rekayasa sehingga mudah ditangkap oleh nalar paling awam sekali pun. Beberapa di antaranya sudah menjadi semacam lagu wajib di kalangan para Slankers. Sebut saja “Terlalu Manis”, “Anyer 10 Maret”, “I Miss You But I Hate You”, “Balikin”, “Orkes Sakit Hati”, “Ku Tak Bisa”, “Kamu Harus Pulang” dan banyak lagi.

Perjalanan Slank mengalami pasang surut. Cobaan datang bertubi-tubi. Dari tersangkut masalah obat-obatan terlarang hingga isu perpecahan. Secara alamiah berbagai peristiwa tersebut telah menempanya menjadi sebuah grup band tangguh. Mereka terus mengentak dunia panggng dan rekaman bahkan ketika band seangkatannya banyak yang berguguran. Formasi terakhir, atau formasi ke 14, turut berkotribusi dalam melahirkan Slankers generasi baru yang lebih modis. Mereka adalah Kakak (vokal),Ridho Hafiedz (gitar), Abdee Negara (gitar), Ivanka (bass) dan Bimbim (drum).

Eksistensi Slank telah melampui fitrahnya sebagai musisi. Pengaruhnya lebih menyerupai sebuah paham. Semua ini diraih berkat kegigihan yang tidak mengenal lelah dalam memegang komitmen. Oleh karena dalam rangka memperingati perjalanan karirnya yang ke 35 tahun, Slank berencana menggelar konser spektakular pada 23 Desember 2018 bertempat di Gelora Bung Karno: Indonesia Now.

Judul di atas merupakan single terbaru yang mengambil tema bagaimana teknologi digital sudah demikian merasuk pada berbagai sendi kehidupan. Dan, seperti tertuang dalam sebagian besar karyanya, yaitu spirit kepedulian, Slank akan menyisihkan sebagian hasil penjualan tiketnya untuk turut menanggulangi berbagai bencana alam yang belakangan ini bertubi-tubi menimpa rakyat Indonesia.

(Materi Press Conference – 16 Oktober 2018 – Sallo Inyan Cafe)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY